Hey teman-teman,
Menyinggung soal gigi, saya ingin berbagi cerita. Waktu saya duduk di bangku kelas 5 SD, saya pernah menjalani operasi kecil di gusi karena satu buah gigi seri bagian atas tidak mau turun ke bawah setelah dicabut. Jadi saya pernah ompong selama setahun. Untung waktu itu saya masih kecil ya, masih cuek soal penampilan tapi, lama-lama malu juga sih. Setiap ketawa kelihatan ompong! Can you imagine if you were me guys? 👹
Saya bersyukur memiliki orang tua yang perhatian. Walaupun dulu saya pikir bapak adalah orang yang galak dan bukan penyayang tapi ternyata justru bapak sayang sama saya. Bapak mendidik saya sedikit keras supaya saya menjadi pribadi yang mandiri dan tangguh. Agak kaku dan tegas orangnya, tapi sekarang sudah tidak begitu. Oke, balik ke topik. Jadi, saya periksa gigi ke sebuah klinik sebutannya waktu itu medikal. Fasilitas kesehatan disitu gratis untuk karyawan dan keluarganya; tempat orang tua saya bekerja. Dokternya perempuan, masih muda jadi saya merasa nyaman ketika diperiksa. Gigi saya yang bermasalah itu masih di dalam gusi dan sulit keluar kemungkinan karena gusi saya keras. Aneh kan teman-teman? Tapi memang kenyataannya begitu, harus ada tindakan dari luar untuk memancing gigi tersebut untuk turun ke bawah. Selain itu, gigi geraham saya yang lain banyak yang sudah rusak, padahal saya masih kecil. Hal itu dikarenakan saya jarang atau malah gak pernah merawat gigi dengan baik. I never brush my teeth before I sleep! Oh my! Akhirnya, ditambal sini dan sana. Karena saya masih kecil dan tidak ada edukasi untuk merawat gigi sebelum tidur jadi wajar banyak gigi yang rusak.
Balik lagi ke gigi yang gak mau keluar dari kediamannya itu, saya dirujuk untuk melakukan tindakan operasi kecil ke dokter gigi spesialis namun sebelumnya, saya harus melakukan rontgen gigi ke sebuah kota kecil; namanya kota Metro. Bersama bapak, saya pergi ke kota yang jauh disana naik motor. Ah... bapak memang sosok yang tangguh! Minimal perjalanan 6 jam (2 jam dari rumah ke kampung halaman; 4 jam dari kampung halaman ke kota Metro) bapak tanya orang sana sini untuk mencari alamat yang kami tuju. Sesuai rujukan dokter dan membawa hasil rontgen, kami langsung pergi ke Bandar Lampung (Ibu Kota Provinsi Lampung) untuk menemui praktik dokter gigi spesialis (tahun 2003 masih jarang dokter gigi spesialis). Perjalanan tambahan memerlukan waktu sekitar 3 jam dan akhirnya kami sampai di lokasi praktik dokter gigi tersebut. Lokasi praktiknya bukan di rumah sakit maupun klinik, tetapi di rumah pribadinya.
Setelah diperiksa oleh dokter, dokter menjelaskan prosedur yang harus dilakukan. Prosedur yang harus dilakukan sebenarnya tidak banyak, pertama perlu dilakukan pembedahan gusi dan setelah itu dipasang behel yang berfungsi untuk menarik turun gigi saya yang "malu-malu" itu. Sudah cuma dua itu saja. Pemasangan kawat gigi ini dilakukan selama 6 bulan dan tiap bulan harus kontrol untuk ganti kawat gigi. Sebelum proses itu dilakukan bapak bertanya soal harga, jadi untuk prosedur tersebut mulai dari pembedahan gusi sampai pemasangan behel, bapak harus mengeluarkan uang Rp 7,500,000.- T_T. Walaupun saat itu saya masih anak-anak, saya sangat sensitif dan masih ingat soal detail harga sampai sekarang. Kami bukan berasal dari keluarga yang berada tapi secara kebutuhan sandang, pangan dan papan kami terbilang cukup. Saya yakin itu sangat memberatkan perekonomian keluarga kami. Saat itu, posisi saya sudah tiduran di kursi pemeriksaan sambil terus mendengarkan pembicaraan mereka.
Saya tidak ingat, apakah ada dukungan dana dari perusahaan tempat bapak bekerja tapi yang pasti saya ingat adalah saat dokter tersebut akhirnya memberikan keringanan harga untuk kami. Saya juga teringat bagaimana bapak menyimpan hati-hati uang jutaan rupiah yang dibawanya, bapak menyimpang uang dibalik jaketnya dengan perlindungan ekstra yaitu, dilakban. 😆
Biaya tadi turun menjadi Rp 5,000,000 (sekitar 33,33%). Puji Tuhan! Tidak perlu menunggu lama, hari itu juga saya menjalani operasi kecil. Sepertinya, jam kerja dokter spesialis saat itu belum terlalu padat jadi saya bisa langsung ditangani. Dokter bekerja tanpa ada asisten, bayangkan! Walaupun ini prosedur operasi kecil tapi alangkah baiknya saat itu ada yang membantu dokter tersebut. Saya ingat, asisten dokter saat itu sedang ada urusan praktik lain di rumah sakit. Walaupun hanya sendirian, Pak Dokter tetap siap bekerja dengan keahliannya.
Jujur teman-teman, dibalik kekaguman saya dengan dokter gigi tersebut, saya sangat takut melihat alat suntik dan pisau bedah di dekat saya. Bagaimana tidak, karena alat-alat itu akan digunakan untuk membedah gusi saya. Rasanya saya ingin lari dan mengelak atau pura-pura pingsan saat itu tapi, tidak bisa. Tidak perlu menunggu lama lagi, jarum suntik siap membius gusi saya. Setelah dibius saat itu, anehnya saya masih bisa merasakan sedikit sakitnya pisau bedah merobek gusi saya. Saking sakitnya, air mata tidak bisa keluar lagi dari mata saya dan bahkan tidak bisa mengeluarkan suara. Teman-teman saya tidak tahu apakah kalian bisa membayangkan sakit yang saya alami saat itu. Hehehe... Tidak perlu dibayangkan juga tidak masalah. Setelah berhasil dibedah, dokter tersebut siap memasangkan kawat behel di gigi saya bagian atas. Setiap gigi akan ditekan supaya bisa merekatkan alat behel tersebut dan semakin terasa tekanannya saat menyentuh permukaan gigi saya yang baru dibuka itu. Akhirnya, prosedur kurang lebih 1-2 jam tersebut selesai. Saya bisa merasakan, mulut saya penuh karena ada benda asing yang harus tinggal di mulut saya selama 6 bulan kedepan. Saya berusaha beradaptasi walaupun awalnya sulit untuk makan dan masih ngilu di gigi. Namun, ketidaknyamanan tersebut hanya berlangsung beberapa minggu saja.
Jadi, setiap bulan bapak tetap setia mengantarkan saya melakukan pemeriksaan ke kota. Tidak pernah telat dan dengan motornya yang selalu setia mengantarkan kami, kami pergi dan pulang dengan selamat. Setiap bulan, warna bantalah behel saya bisa berubah-ubah. Saya bisa request warna dan itu menyenangkan. Ohya, ketika pertama kali masuk sekolah dengan memakai behel itu, saya sangat malu. Saat itu musim film Betty La Fea (Did you know that?), jadi saya merasa seperti tokoh tersebut (jelek). Rambut suka diikat dua di bawah telinga dan memakai behel, tapi untung tidak pakai kacamata juga. Orang-orang awalnya heran, wajar sih karena pemakaian behel di kampung saat itu tidak familiar. Tapi coba lihat sekarang, orang memakai behel tidak sedikit hanya untuk estetika. Beberapa teman yang saya lihat giginya sudah rapi tetap masih memakai behel. Setelah bersabar menanti setiap hari, setiap minggu dan bulan saya perhatikan memang gigi saya semakin turun dan menyesuaikan tempatnya. Wow, ajaib dia mulai keluar dari tempat persembunyiannya!
Gambar ilustrasi
Akhirnya setelah 6 bulan harus bolak-balik dari kampung halaman ke kota dan membutuhkan waktu berjam-jam (pulang pergi bisa 18 jam), gigi saya sudah turun dan terlihat sangat rapi berjejer dengan gigi yang lain. Saatnya behel dilepas, dan ketika behel dilepas saya merasakan ada yang hilang. Haha... Saya sangat bersyukur kepada Tuhan karena saya mempunyai orang tua seperti bapak dan mamak yang memperhatikan kesehatan saya. Saya juga sangat berterima kasih kepada dokter gigi dan kecanggihan teknologi yang saya rasakan manfaatnya untuk gigi saya saat itu bahkan sampai sekarang.
Gigi oh gigi, jadi gak cuma muka saja yang perlu dirawat, gigi pun "manja" minta diperhatikan juga. Kalau kalian punya pengalaman manis seperti apa teman-teman dengan gigi? 😀

Comments
Post a Comment